Potensi.News, Tanjungpinang- Konflik lahan di Jalan Raya Senggarang Km 14 (Batu 14), Kelurahan Air Raja, Tanjungpinang Timur, kian memanas. Seorang pria berinisial HAS yang disebut sebagai mantan anggota DPRD Kota Tanjungpinang dilaporkan ke polisi, terkait dugaan pembongkaran pagar di lahan sengketa yang memicu ketegangan di lapangan.
Laporan tersebut diajukan oleh SD, istri almarhum Turnip, pada Selasa (21/4/2026). Ia mengklaim sebagai pihak yang telah menguasai dan mengelola lahan tersebut selama belasan tahun lebih. Dalam laporan yang diterima, peristiwa ini mengarah pada dugaan tindak pidana perusakan.
SD menegaskan, lahan itu bukan objek baru dalam pengelolaan keluarganya. Selama lebih dari 15 tahun, lahan tersebut ditanami berbagai komoditas seperti kelapa, durian, jengkol, hingga mangga dan masih banyak lagi tanaman di lokasi lahan tersebut, Jumat (24/04/26) kemarin saat diwawancarai awak media ini ditempat lokasi pagar lahan yang di bongkar oleh banyaknya orang yang berjumlah belasan orang lebih tersebut.
“Dulu tidak pernah ada masalah. Tapi setelah suami saya meninggal, tiba-tiba muncul klaim dan tindakan sepihak,” ujarnya.
Situasi berubah drastis pada April 2026. SD mengaku didatangi sekelompok orang dalam jumlah cukup banyak secara berulang. Kedatangan itu, menurutnya, bukan sekadar komunikasi, melainkan disertai aksi pembongkaran pagar yang membuatnya merasa tertekan dan ketakutan hingga saat ini.
“Saya merasa terintimidasi. Saya hanya minta perlindungan hukum,” katanya.
Ketegangan memuncak saat M, menantu SD, tiba di lokasi dan mengaku mendapati mertuanya dalam posisi terdesak, dikelilingi belasan orang yang tengah melakukan pembongkaran pagar dengan dilengkapi sajam.
“Saya lihat langsung, mertua saya di kelilingi banyak orang di lokasi. pagar yang sudah dibongkar lebih dari belasan orang itu. Saya datang pagar sudah dibongkar. Lalu, Saya tanya dasar hukumnya. tapi tidak ada penjelasan yang jelas saat itu,” tegasnya saat diwawancarai awak media ini, Jumat (24/04/26) kemarin.
Di lapangan, aksi tersebut dikaitkan dengan HAS. Namun, saat ditanya, HAS menyatakan dirinya tidak bertindak tanpa dasar. Ia mengaku hadir berdasarkan kuasa dari pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan, yakni seorang pengembang berinisial SY melalui NA, “ucap M.
Meski demikian, pihak keluarga SD menolak klaim tersebut. Mereka menilai dokumen yang dibawa tidak mencakup lahan yang selama ini mereka kelola. Mereka juga mempertanyakan langkah yang dinilai dilakukan tanpa pemberitahuan maupun mediasi atau dibicarakan baik-baik secara kekeluargaan.
“Kalau memang ada dasar hukum, kenapa tidak ditempuh lewat jalur resmi? Kenapa harus datang dengan banyak orang?” ujar M.
Keluarga juga mengungkap bahwa insiden serupa sebelumnya sempat terjadi, namun dihentikan dengan harapan penyelesaian damai. Namun, menurut mereka, tidak ada tindak lanjut berupa mediasi hingga akhirnya peristiwa kembali terulang.
Menantu almarhum, M, mengatakan dirinya datang ke lokasi setelah mendapat kabar dari ibu mertuanya yang merasa ketakutan karena kedatangan massa.
“Saya datang hari Selasa (21/04/26) pada siang hari sekitar pukul sebelas. karena ibu mertua ketakutan melihat banyak orang datang ke lokasi,” ujar M.
Sesampainya di lokasi, M mengaku melihat belasan lebih orang yang merupakan pekerja pembongkaran pagar yang disebut sebagai batas lahan keluarganya.
Ia kemudian mempertanyakan tindakan tersebut kepada para pekerja. Dari informasi di lapangan, kegiatan itu disebut dikomandoi oleh seorang pria berinisial HAS, yang disebut sebagai mantan anggota DPRD Tanjungpinang.
M mengaku sempat meminta penjelasan kepada HAS. Menurut dia, HAS menyatakan bertindak atas kuasa dari pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan, yakni seorang pengembang ternama inisial perusahaan SB dan nama pengembang yang disebut HAS yakni SY.
Namun, M membantah klaim tersebut. Ia menilai dokumen yang ditunjukkan tidak mencakup lahan yang selama belasan tahun lebih ini dikelola keluarganya.
“Kalau memang merasa memiliki, seharusnya menempuh jalur hukum atau mediasi, bukan langsung membongkar pagar,” kata M.
Ia menilai tindakan pembongkaran tanpa komunikasi justru memperkeruh situasi dan memicu konflik di lapangan.
M juga menyayangkan tindakan yang melibatkan massa dalam pembongkaran tersebut. Menurut dia, langkah itu berpotensi menimbulkan ketegangan di masyarakat.
Di lokasi kejadian, suasana sempat memanas dan diwarnai adu mulut. M mengaku sempat terpancing emosi dan melontarkan peringatan agar pembongkaran dihentikan. Karena saya melihat mertua saya sudah di datangi belasan orang lebih. Orang waras mana yang tidak emosi kalau keluarganya di gitukan.
Meski demikian, beberapa orang yang ikut dalam rombongan tersebut meminta maaf setelah mengetahui lahan tersebut tengah dalam sengketa.
Tak lama kemudian, rombongan meninggalkan lokasi. Namun, M mengaku terkejut karena dirinya dilaporkan oleh HAS atas dugaan ancaman pembunuhan.
“Saya hanya memperingatkan agar pembongkaran dihentikan. Tidak benar jika disebut melakukan ancaman pembunuhan,” tegasnya.
Sementara itu, pihak keluarga tetap melanjutkan laporan dugaan perusakan pagar lahan yang selama belasan tahun lebih di kelola ke kepolisian.
Mereka berharap aparat kepolisian dapat mengusut kasus tersebut sekaligus membuka ruang mediasi agar konflik tidak berlarut-larut.
Ditempat terpisah, Mantan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, HAS mengatakan saya tinggal di jalan pemuda Tanjungpinang, kenapa tidak konfrontir langsung (dapat saya tunjukkan data) lebih profesional yakin saya koperatif terlebih salam dari saya kepada rekan-rekan juang, ejaan yang disempurnakan (EYD), “tulis HAS menanggapi konfirmasi media ini, Jumat (24/04/26) kemarin melalui pesan via WhatsApp.
Senada dengan itu, Diduga preman bayaran suruhan Oknum Mantan DPRD Kota Tanjungpinang, bernama inisial R, mengatakan maaf kamu itu siapa? saya ngga kenal, “tulis R menanggapi konfirmasi media ini, Jumat (24/04/26) kemarin melalui pesan via WhatsApp.
Disamping itu, awak media ini mendatangi kantor gedung pengembang inisial perusahaan SB. Namun hanya marketing yang dijumpai, yakni Marketing, bernama inisial, S.
Marketing, S mengatakan kepada awak media. humas perusahaan lagi sakit. Belum tentu kapan masuk kerja. Nanti kalau sudah sehat. Bisa kami hubungi. Ya, kalau boleh tinggal kan nomor HP saja. Kalau, mau minta nomor kontak Humas tak ada, “dikutip kata marketing S, saat ditanya di kantor SB, Jumat (24/04/26) kemarin.(Red/Tim)
Part: l
Bersambung….






